Tentang Rasa Mengikhlaskan

Review : TENTANG RASA MENGIKHLASKAN
 


 
Judul        : Tentang Rasa Mengikhlaskan
Penulis     : Panji Ramdana
Penerbit    : MDP Media
Halaman   : 200 halaman
ISBN          : 978-623-91044-6-7
Cetakan      : Ketiga, April 2020

        Entah kenapa, buku yang aku baca pertama kali dari sekian bukunya Panji Ramdana adalah buku ini... Judulnya membuat hati ku tertarik untuk membacanya seperti ada magnetnya. Hehehe. Disini aku akan mereview mengenai sudut pandang ku terhadap isi buku ini. Buku ini terdiri dari 29 Chapter, yang isi nya keren syekalii.... Kita mulai yaa...
        Aku mengutip dari mas panji,
        "Apakah mengikhlaskan sama dengan melupakan?
        Tentu jawabannya TIDAK,
        Mengikhlaskan itu bukan melupakan, pun juga buka melepaskan,
        Namun, mengikhlaskan itu adalah menerima"
        
        Yaaaa,,, buku ini berisikan mengenai bagaimana kamu untuk bisa menerima segala keadaan yang sedang menimpamu saat ini.
        Di chapter 1, kamu akan digiring oleh penulis bagaimana kamu sebelumnya telah mengharapkan "dia" yang membuat mu menjadi candu. Di mana cinta yang bisa membuatmu candu atas segal hal yang nampak tak masuk akal, tetapi atas cintamu ini semua menjadi masuk akal. Selalu berfikiran akan hidup berdampingan bersamanya, selalu akan menghabiskan waktu bersamanya, selalu akan berbagi tawa bersamanya, selalu akan menangis dibahu dan dalam pelukkannya serta selalu akan bahagia bersamanya. Itulah... mengaharapkan "dia" adalah candu bagimu.
        Tapi, itu hanya cinta sesaat, karena kamu akan mengetahui Cinta seperti itu tidak akan sukses kamu dapatkan, karena kamu hanya mencintai seorang makhluk saja, dengan nafsu yang kamu miliki.
        Ya, di chapter ini kamu akan disadarkan, bahwa kamu tidak akan berhasil untuk mencintai makhlukNya, sedangkan kamu belum dengan benar mencintai siapa yang menciptakan "dia". Maka, Cintai Alloh terlebih dahulu, baru mahlukNya.

        Di chapter 2 dan chapter 3, kamu akan merasakan bagaimana rasa sedih dan kecewa yang kamu alami saat dia sudah pergi meninggalkanmu begitu saja. Dulu yang pernah kau andai-andai untuk menjadi teman seumur hidup mu akan hilang. Kamu akan menyesali dan akan banyak pertanyaan yang muncul di dalam pikiranmu, "Apa salah ku?", "Mengapa ini terjadi?", "Apa aku ini kurang .....?". 
        Penulis akan menyadarkan mu untuk jangan lagi mengatakan itu, karena itu tanda kamu tidak bisa menerima keadaan yang terjadi padamu. Maka, bersyukurlah... Alloh telah memberikan peringatan sejak dini, sebelum hal lain berlanjut lebih jauh. Mungkin sulit rasanya, namun kamu bisa jadikan dia yang hanya dapat kamu ingat sesekali saja, yaaa disaat kamu memang ingin mengingatnya.
        Kutipan ku ambil dari penulis, Jangan berusaha untuk melupakan, karena itu tidak akan bisa. Tapi berusahalah agar hatimu bisa menjadi ikhlas karena nya, hingga akhirnya kamu bisa mengingatnya hanya karena kamu ingin mengingatnya (Panji, 2020).

        Chapter 4, kamu akan di bawa untuk berfikir.
        "Mengapa kamu menjadi yang paling merasa menyedihkan di dunia ini ?"
        "Dan kamu mengetahui bahwa dunia ini adalah ujian ?"
        Daaaan, disini kamu akan mengetahui satu hal dan dapat kamu jawab dalam hatimu sendiri. "Jangan-jangan kamu telah merasa jatuh cinta dengan nikmatnya dunia?".
        Penulis disini mengingatkanmu, bahwa tak boleh ada yang menjadikanmu jauh dariNya meski seluruh dunia bersepakat untuk menyerangmu sekalipun. Simpan rapat-rapat kekecewaanmu atas makhlukNya, sambut hari yang baru hanya untuk mendapatkan rahmat dari Alloh Azza wa Jalla (Panji, 2020).

        Jujur, baru baca sampai chapter 4 aku menyadari kesalahanku apa. Apa kamu pun begitu?

        Di chapter 5 akan membicarakan mengenai kepekaan dari sudut pandang seorang pria. Di chapter ini sangat terlihat bagaimana pikiran pria yang masih baik hatinya. Seperti, 
        "Apa yang harus aku perbuat? Di sisi lain aku menyukainya, tapi di sisi lain aku juga menyukai yang lain. Kenapa banyak sekali wanita yang aku suka, pusing rasanya, tapi inilah kenyataan perasaanku".
        "Dia wanita yang baik hati, enak juga kalo diajak ngobrol dan diskusi. Aku juga nggak mau sebenarnya terus kaya gini, kaya yang PHP gitu, tapi gimana lagi ya, orangnya enak diajak jadi temen ngobrol sih".
        "Ingin menjauh, tapi kasihan ke dia. Ingin mendekat dan mengiyakan perasaannya tapi jatohnya malah jadi kasihan ke diri sendiri. Hmmmm,,, rumit ya jadi pris yang enggak enakan ke orang".
        "Ya,,, emangnya aku harus gimana? Kalau aku nggak mau berarti aku nggak peka gitu?".
        Masih terdapat beberapa tulisan lagi dari sudut pandang pria sebenarnya. 
        Penulis ternyata membawa kamu untuk berfikir. Apakah kata "peka" sudah tepat?. Karena kamu pasti dari awal berfikir, "ini semua karena dia nya yang enggak peka".
        Ternyata, pada chapter ini bahwa bisa jadi pria yang sangat peka sekali, sampai-sampai dia menjadi terbebani oleh perasaanmu itu. Dan dia pun sadar, dia tidak bisa menerima perasaanmu.
        Jadi,,,, Kita haruslah sama-sama peka, karena bisa jadi bukan dia yang tidak peka, tapi kamu lah yang tidak peka (Panji, 2020).

        Chapter 6, mengenai dia yang belum menjadi milikmu. 
        Hmmm,,, berat sih tapi yaa kamu disini harus bisa dan pasti kamu bisa.
        Penulis menceritakan bagaimana dia yang memang belum menjadi milikmu, tapi kamu harus bisa ikhlas melepaskannya karena Apa yang kamu miliki, telah membuatmu menjadi lebih bahagia, yaitu dengan cukup untuk membentuk sebuah pemahaman baru, bahwa untuk menjadi bahagia? Tidaklah harus memiliki apa yang belum dimiliki (Panji, 2020).

        Di chapter berikut nya akan ada "Hati yang Patah Lagi, ada "Dia yang Berjanji, Dia yang Khianat", ada chapter mengenai "Mengira Akan ke Jenjang yang Lebih Serius, Ternyata Aku yang Salah Paham".
        Penasaran??? Nanti aku lanjut lagi reviewnya yaaa.

Comments

Popular Posts